Alat Perpanjang Masa Penyimpanan Sayur dan Buah “D’OZONE”

Alat Perpanjang Masa Penyimpanan Sayur dan Buah “D’OZONE”

Semakin tahun konsumsi buahan dan sayuran di Indonesia meningkat. Hal ini dapat dilihat  pada tahun 2011, konsumsi buah-buahan sebesar 34.55 kg/tahun dan sayuran 40.35 kg/tahun, menurut balai penelitian dan pengembangan Kementrian Pertanian. Diperkirakan konsumsi sayur dan buahan akan meningkat di tahun-tahun berikutnya. Konsumsi yang begitu besar membuat para petani bekerja keras untuk menghasilkan buah dan sayuran. Akan tetapi, banyak sekali masalah yang perlu diperhatikan karena tidak selamanya hasil panen para petani tetap, sehingga supermarket, pasar dan tempat belanja lainnya perlu melakukan penyimpanan.

Masa simpan sayur dan buah hasil dari petani terbilang sangat pendek sehingga buah dan sayuran tersebut terlihat membusuk dan tidak segar. Sementara,  Masyarakat lebih menyukai buah dan sayur yang segar dan terlihat bagus. Berbagai cara dilakukan untntuk memperpanjang masa penyimpanan, seperti  menggunakan lemari es dengan suhu rendah dan menggunakan perlakuan khusus. Akan tetapi cara ini tidak efektif karena tetap tidak bertahan lama dan tidak begitu aman untuk kesehatan.

Baru-baru ini tanggal 22 Desember 2016, PT.DIPOTECHNOLOGY yang bekerja sama dengan Center for Plasma Research Fakultas Sains dan Matematika Undip menciptakan alat untuk memperpanjang masa simpan buah dan sayur menggunakan pemanfaatan OZONE.   D’ozone adalah generator ozon yang mempunyai 6 reaktor dan dapat menghasilkan ozon sebesar 300-500 gram/jam, Alat ini mempunyai tangki pelarut ozon dengan kapasitas 800 liter yang berfungsi untuk melarutkan ozon. Menurut Dr. Muhammad Nur (kamis 22/12), Ozon dapat menghilangkan jamur, bakteri kapang dan peptisida yang terdapat pada sayur dan buah.

Ibu Astuti manager produksi aspakusa berharap “dengan adanya alat ini dapat membantunya dalam penyimpanan sayur dan buah agar bertahan lebih lama. Selain itu, alat ini dapat meningkatkan harga jual hasil dari pertanian dan dapat menghilangkan peptisida yang menempel sehingga sayur dan buahan hasil produksinya dikatakan organik”