PENGUJIAN ZETA GREEN TERHADAP VIRUS COVID 19 VARIAN TERBARU

PENGUJIAN ZETA GREEN TERHADAP VIRUS COVID 19 VARIAN TERBARU

Zeta Green telah teruji bisa membunuh virus Covid 19. Pembuktian bahwa Zeta Green bisa membunuh Virus Covid 19 ini diuji di Laboratorium BSL – 3 Profesor Nidom Foundation (PNF) di Surabaya. Pengujian ini di tangani langsung oleh Prof. Chairul Anwar Nidom bersama TIM di dampingi oleh TIM R&D PT. DIpo technologi dan CPR (Center for Plasma Research) Universitas Diponegoro, dengan menggunakan Zeta Green Super (ZGKT03) dan virus Covid 19 varian terbaru.
Pemanfaatan Teknologi Plasma Dingin Untuk Mencegah Penularan Dalam Ruang

Pemanfaatan Teknologi Plasma Dingin Untuk Mencegah Penularan Dalam Ruang

Oleh : Dr. dr. Tauhid Nur Azhar, Ph.D

Ujian yang kini tengah kita hadapi dalam bentuk pandemi dengan Sars CoV-2 sebagai patogennya, selain telah mengakibatkan masalah serius di bidang kesehatan juga berimbas secara sangat signifikan ke dalam berbagai aspek kehidupan lainnya. Roda ekonomi melambat dan pergerakan manusia beserta aktivitasnya menjadi amat berkurang. Kerawanan muncul di berbagai sektor dan jika tidak disikapi secara bijak, tentu saja dapat berdampak pada menurunnya kualitas hidup secara keseluruhan.

Pandemi dan Inovasi,

Salah satu persoalan krusial yang mengemuka dan menggejala di berbagai kondisi adalah tingginya potensi penularan di dalam ruang, baik itu di area publik seperti rumah sakit, bandara, kabin kereta api, sampai gedung perkantoran.

Mengingat interaksi sosial adalah salah satu kunci yang sangat penting untuk menjalankan berbagai proses ekonomi, maka diperlukan suatu upaya kongkret untuk mengatasi dan mengurangi potensi penularan di ruang publik dan ranah privat.

Terlebih jika kita berbicara tentang keselamatan di fasilitas kesehatan. Pada kondisi normalpun fasilitas kesehatan memiliki standar tinggi dalam hal pengendalian potensi penularan melalui jalur airborne. Di masa pandemi dengan patogen yang memang sudah teridentifikasi bertransmisi secara airborne tentu amat diperlukan suatu pendekatan berbasis teknologi terkini yang diharapkan dapat mereduksi keberadaan atau muatan patogen di udara dalam ruang.

Teknologi plasma dingin menjadi salah satu pilihan yang sangat efektif dalam mengendalikan keberadaan patogen airborne dalam ruang.
Prof Muhammad Nur, DEA dari Center for Plasma Research Universitas Diponegoro Semarang telah mengembangkan suatu inovasi berbasis teknologi terapan tepat guna dengan menggunakan teknologi plasma dingin sebagai prinsip utamanya. Zeta Green atau teknologi peningkat kualitas udara adalah hasil kongkret dari pengembangan riset plasma di lingkungan Fakultas Sains Matematika Undip.

Plasma sendiri adalah material keempat yang keberadaannya melengkapi materi solid, cair, dan gas. Plasma dihasilkan oleh proses ionisasi gas dalam suhu tinggi. Plasma memiliki sifat konduktif, atau mampu mengalirkan aliran listrik. Sedangkan teknologi plasma dingin dihasilkan oleh reaktor plasma Corona dan DBD.

Dalam teknologi Zeta Green misalnya, 2 reaktor plasma yang digunakan hanya membutuhkan catudaya sekitar 80 Watt dengan tegangan 220 V, dan dapat menghasilkan plasma dingin yang dapat digunakan untuk meningkatkan kualitas udara dalam ruang. Di dalam plasma dingin yang dihasilkan terdapat reactive oxygen species seperti O2-, -OH, dan H2O2. Juga reactive nitrogen species seperti NO-, NO2-, NO3-, dan ONOO-. Selain itu terdapat pula ultra violet, ion positif, elektron, dan emisi gelombang elektromagnetik, yang mana semua unsur itu berpotensi untuk mendenaturasi unsur organik dalam struktur virus, bakteri, dan jamur.

Kapasitas eksisting dari penerapan teknologi plasma dingin sebagai alat utama sistem perbaikan kualitas udara dalam ruang telah dapat menjangkau capaian pemurnian pada volume udara 100 mÂł sebagaimana dapat dilihat pada hasil pengujian di laboratorium terpadu Undip. Bergantung kepada spesifikasi teknis terkait, seperti kapasitas maksimal kipas penyedot dan juga dinamika fluida udara dalam ruang itu sendiri.

Pengujian validitas yang telah dilakukan antara lain adalah dengan mengukur tingkat reduksi mikroba dalam ruang yang antara lain diukur dengan menggunakan microbial air monitoring system(MAS-100 NT).

Selain itu bahkan telah dilakukan uji validitas dan tingkat efektifitas fungsi Zeta Green yang berteknologi plasma dingin, secara langsung dalam sebentuk uji tantang (challenge test) dengan menggunakan virus Sars CoV-2 varian Delta (B 1617.2) di fasilitas laboratorium Biosafety Level 3 Prof Nidom Foundation Pasuruan.

Hasil uji tantang tersebut termaktub dalam indikator Tissue Culture Infectious Dose atau TCID-50 dan daya hambat virus. Kedua indikator tersebut memperlihatkan bahwa teknologi purifikasi udara berbasis plasma dingin memiliki tingkat efektifitas sangat tinggi dan diharapkan mampu menghasilkan efek proteksi maksimal terhadap penularan virus di dalam ruang.

Ke depan dapat dipertimbangkan sebentuk kerjasama riset post market dengan perusahaan rintisan bioteknologi Nusantics yang juga tengah mengembangkan produk pemeriksaan kandungan patogen (virus) di udara, yang produknya dinamai Nusantics Air. Dengan kemampuan mengambil sampel udara dalam ruang (menggunakan air biosampler dan swab pada beberapa titik di permukaan) serta kehandalan dalam melakukan pemeriksaan PCR untuk menganalisanya, maka jika kinerja Zeta Green dapat dianalisa efektifitasnya tentu dapat menjadi acuan objektif yang sangat bermanfaat bagi semua pihak.

Kita bisa mendapatkan data terkait durasi ideal penggunaan teknologi plasma dingin untuk mensterilkan sebuah ruangan dalam luasan tertentu. Untuk selanjutnya data ini dapat menjadi acuan pengembangan standard operational procedure dari proses penerapan teknologi plasma dingin dalam ruangan.

Tak pelak teknologi plasma dingin yang dikembangkan Prof Muhammad Nur, DEA yang saat ini juga telah diproduksi dan dimanufaktur oleh perusahan rintisan berbasis teknologi, PT Dipo Technology pimpinan Bapak Azwar, SE, MM, adalah salah satu upaya kongkret hilirisasi produk inovasi peneliti yang berdampak langsung pada proses pengelolaan dan pengendalian pandemi. 🙏🏾🇲🇨

D’ozone Membuat Cabai Tahan 2 Bulan Tetap Segar

D’ozone Membuat Cabai Tahan 2 Bulan Tetap Segar

Semarang, Gatra.com- Produk hortikultural seperti sayuran dan cabai selama ini memiliki daya tahan yang relatif pendek, dalam hitungan hari sudah busuk dan tidak layak untuk dikonsumsi. Kondisi ini tentunya merugikan para petani sayuran dan cabai, termasuk para pedagang karena harus berpacu dengan waktu sebelum komoditas tersebut busuk.

Namun, sekarang sudah ada solusi untuk memperpanjang daya tahan sayuran dan cabai tetap dalam kondisi segar serta layak dikonsumsi manusia. Telah diproduksi alat D’ozone dengan memanfaatkan ozon yang bisa membuat produk hortikultural bisa tahan lama, bahkan untuk cabai bisa sampai dua bulan tetap segar.

D’ozone produksi dalam negeri dibuat oleh PT. Dipo Technology berlokasi di Semarang Jawa Tengah, telah mengantongi izin edar dan sertifikat Standar Nasional Indonesia (SNI). “D’ozone bisa menyelamatkan para petani Indonesia dari kerugian ekonomi, khususnya pascapanen, karena bisa memperpanjang daya tahan segala macam sayuran, bawang, cabai, dan beras,” kata Direktur PT. Dipo Technology, Azwar saat berbincang dengan Gatra.com di pabrik Kawasan Industri Candi Semarang, Selasa (25/5).

Menurutnya, cabai yang biasanya hanya bertahan hanya lima hari, dicuci selama 15 menit dengan menggunakan D’ozone bisa tahan sampai dua bulan, sehingga kalau harga cabai tidak bagus bisa disimpan dulu. Sayuran brokoli dicuci lima menit dengan D’ozone bisa sampai dua pekan, demikian pula sayur kangkung dapat tahan empat hari.


Reporter: Insetyonoto
Editor: Rohmat Haryadi

Undip Hasilkan Teknologi Plasma D’ozone dan Zeta Green

Undip Hasilkan Teknologi Plasma D’ozone dan Zeta Green

Direktur Utama PT. Dipo Technology, Azwar menyatakan, tertarik dengan hasil riset hasil riset teknologi plasma CPR yang menghasilkan D’ozone, Zeta Green. (GATRA/Humas Undip)

Semarang, Gatra.com – PT. Dipo Technology bekerja sama dengan Center for Plasma Research (CPR) Fakultas Sains dan Matematika Universitas Diponegoro (Undip) Semarang menghasilkan sejumlah produk teknologi plasma.Produk itu antara lain, D’ozone yang berfungsi memperpanjang masa simpan produk hortikultura sampai dua bulan. Lalu ada Zeta Green, alat penjernih udara yang mampu membunuh bakteri, virus dan jamur dalam ruangan tertutup dan berpendingin udara.

Ada pula Seaozone yang berfungsi memperpanjang masa simpan ikan hingga 16 hari dengan suhu 2-8 derajat celcius, serta Medical Ozone Generator atau M’Ozone digunakan untuk mengobati luka luar yang susah mengering pada penderita diabetes.“D’ozone, Zeta Green, dan Seazone telah melalui uji laboratorium berulang kali dan uji pasar,” kata Direktur PT. Dipo Technology, Azwar di Semarang, Jumat (30/4). Lebih lanjut, Azwar menyatakan tertarik dengan hasil riset hasil riset teknologi plasma CPR yang menghasilkan D’ozone karena bisa menyelamatkan para petani Indonesia dari kerugian ekonomi, khususnya pascapanen.”Masyarakat petani harus ditolong dan dibantu. Ketika produk mereka bisa bertahan selama satu minggu, bagi petani sudah sesuatu yang sangat berharga. Jadi harapannya D’ozone bisa digunakan betul di kalangan petani,” ungkapnya.

Oleh karenanya, Dipo Technology mendampingi CPR mulai dari proses uji laboratorium, melakukan uji pasar, memikirkan desain produk, hingga memasarkannya.“Kami melihat belum ada pesaing yang memasarkan produk berdasarkan hasil riset perguruan tinggi,” ujar Azwar.Menurutnya, pemerintah daerah dan pusat perlu terlibat dengan mengarahkan para petani untuk menggunakan teknologi plasma ini.“Puluhan unit D’ozone telah digunakan kelompok-kelompok tani di berbagai seperti di Jawa Tengah, Jawa Timur, hingga Kalimantan,” katanya.

Demikian pula dengan Seazone telah digunakan para nelayan di pesisir pantai Jawa Tengah. Zeta Green sudah digunakan di RSND, Kantor Gubernur Jawa Tengah, hotel, hingga Lemhannas. Bahkan, Zeta Green kini tengah memasuki tahap pengembangan produk Zeta Green Mobile untuk sterilisasi kamar hotel dengan waktu singkat kurang dari 20 menit.“Kami dari awal memang betul-betul mendampingi bagaimana produk ini menjadi sebuah produk layak jual, layak dikomersialisasikan. Kalau hanya sekedar riset dari perguruan tinggi, banyak orang apriori dan meragukan, tetapi kalau perusahaan yang menangani kan beda,” ujar Azwar.Sebab, imbuh Azwar, memproduksi sebuah produk tidak sembarangan, ada manajemennya, seperti menajemen keuangan, bagian purchasing yang menjaga bahan baku produk tersedia di pasar.Kerja sama antara Dipo Technology yang berkantor di Kawasan Industri Candi, Semarang dengan CPR terjalin sejak tahun 2008. CPR Undip didirikan pada Februari 2005 sebagai pusat penelitian plasma dan aplikasinya. Kegiatan penelitian aplikasi plasma ini meliputi plasma untuk lingkungan, makanan, pertanian, tekstil, material, medis dan energi. Di bawah pimpinan Prof. Dr. Muhammad Nur, DEA, Dosen Fisika Undip, CPR telah menghasilkan berbagai inovasi penelitian berbasis teknologi plasma.


Reporter: Insetyonoto
Editor: Putri Kartika Utami

ASPAKUSA MAKMUR BOYOLALI PEMASOK SAYUR HIGIENIS

ASPAKUSA MAKMUR BOYOLALI PEMASOK SAYUR HIGIENIS

BOYOLALI, Aspakusa Makmur Boyolali yang berada di tepi Jalan Raya Boyolali-Semarang, Kantil, Mojolegi, Kec. Teras, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, telah menerapkan teknologi Plasma Ozone dengan merek mesin D’Ozone agar sayur yang dikirim ke Supermarket bisa bertahan lebih lama dan higienis.

Sayur yang telah ditreatment dengan plasma ozon tersebut diwrapping untuk kemudian dikirim ke Supermarket yang berada di Semarang, Yogyakarta, Surakarta dan Surabaya.

“Sekali kirim kami bisa mencapai 1 ton, dan sayur tersebut harus dicuci terlebih dahulu dengan air yang telah bercampur dengan gas ozon yang dihasilkan oleh mesin D’Ozone” kata Manajer pengelola Aspakusa, Bu Puji. “Jika sayur tersebut tidak dicuci, sayur akan cepat busuk, kutu, semut, bakicot kecil yang ada pada sayuran tersebut tidak mati. Tentu konsumen akan merasa jijik, namun ketika sayur tersebut dicuci dengan air berozon maka hewan-hewan kecil pada sayur tersebut akan mati, pestisidanya juga berkurang, sayur bersih dan segar. Rata-rata sayuran bisa bertahan 4 sampai 7 hari. Untuk cabai bisa sampai 2 bulan jika disimpan di dalam cold storage suhu 2-8 derajat, kami sangat diuntungkan dengan adanya mesin D’Ozone ini” pungkasnya. (awa).

Manajer Aspakusa Makmur Boyolali, menjelaskan tentang proses pencucian sayur
ZETA GREEN DIGUNAKAN  DI LOBBY HOTEL @HOM SEMARANG

ZETA GREEN DIGUNAKAN DI LOBBY HOTEL @HOM SEMARANG

Semarang,

Semarang, Zeta Green yang berfungsi untuk sterilisasi ruangan tertutup sangat efektif untuk membunuh mikroorganisme berupa jamur, bakteri dan virus. Apalagi dimasa pandemi ini, Zeta Green juga digunakan di lobby-lobby hotel, meminimalisir kontaminasi dan penyebaran mikroorganisme yang mungkin terbawa oleh pengunjung hotel.

Tidak terkecuali di Hotel @HOM Semarang saat ini menggunakan Zeta Green di lobby Hotel dan digunakan juga untuk sterilisasi kamar-kamar hotelnya dalam rangka mengantisipasi kontaminasi dan penyebaran virus covid-19 yang melanda seluruh dunia.

Dengan dihidupkan terus menerus, Zeta Green maka udara di dalam ruangan tersebut akan bersih, virus, jamur dan bakteri akan mati.

Zeta Green menggunakan teknologi plasma dingin sangat efektif membunuh mikroorganisme yang bisa menyebar lewat udara, melalui batuk atau bersin. Dengan ditempatkannya Zeta Green tersebut di lobby hotel diharapkan kontaminasi penyebaran covid19 bisa terkurangi. (awa)

STUDENT PARK HOTEL GUNAKAN ZETA GREEN UNTUK STERILISASI KAMAR HOTEL

STUDENT PARK HOTEL GUNAKAN ZETA GREEN UNTUK STERILISASI KAMAR HOTEL

Yogyakarta, Pandemi yang melanda seluruh negara tak terkecuali Indonesia telah merontokkan sendi-sendi perekonomian. Termasuk bisnis dibidang perhotelan. Dilansir dari beberapa berita online dan offline, penurunan omset perhotelan sangat drastis hingga 50%. Hal tersebut terjadi karena adanya PSBB dan juga tamu-tamu hotel membatasi diri untuk tidak menginap di hotel. Disamping itu sterilisasi terhadap kamar hotel menjadi alasan juga bagi mereka untuk tidak menginap.

Berdasar alasan tersebut Student Park Hotel, yang berlokasi di Seturan Yogyakarta menggunakan Zeta Green (ZG-HRE04) sebagai alat untuk sterilisasi kamar-kamar hotel mereka.

Zeta Green (ZG-HRE04) adalah produk Hotel Room Sterilization Equipment yang dapat menurunkan jumlah Bakteri, Jamur dan Virus dalam kamar hotel setelah tamu yang menginap melakukan cek out.

Dalam penerapannya, Student Park Hotel menetapkan SOP bagi petugas housekeeping sebelum mereka membersihan kamar.

  1. Untuk kamar ukuran 6x5x4m3 Zeta Green (ZG-HRE04) dihidupkan selama 3 jam. Sedang ukuran kamar 3x4x4m3 Zeta Green dihidupkan selama 2 jam.
  2. Petugas akan membersihkan kamar tersebut setelah disterilisasi
  3. Setelah dibersihkan Zeta Green diaktifkan kembali selama 1 jam.

Metode ini sangat efektif untuk sterilisasi kamar-kamar hotel setelah tamu-tamu hotel cek out. Berfungsi untuk menekan angka penyebaran virus Covid-19, dan tamu-tamu berikutnya tidak perlu khawatir lagi. Satu unit Zeta Green(ZG-HRE04) bisa digunakan diseluruh kamar-kamar hotel. (awa)

SAYUR HIGIENIS, SOM MENERAPKAN TEKNOLOGI PLASMA OZONE

SAYUR HIGIENIS, SOM MENERAPKAN TEKNOLOGI PLASMA OZONE

SALATIGA, SOM (Sayur Organik Merbabu) yang berlokasi di Kopeng, Salatiga, Jawa Tengah menerapkan teknologi plasma ozone yang diproduksi oleh PT. Dipo Technology untuk meningkatkan kualitas dan mutu sayur mereka.

SOM yang telah berkiprah sebagai distributor sayur organik di berbagai pasar modern tidak cukup gembira karena sayur mereka tidak bisa bertahan lama disebabkan pembusukan.

Melalui penghargaan Bank BRI Salatiga, kemudian SOM bisa mendatangkan alat D’Ozone untuk kemudian menerapkannya ke sayuran yang akan didistribusikan. Ada 70 jenis sayuran yang kemudian ditreatment menggunakan teknologi plasma ozone ini. Swalayan sebagai pelanggan mereka cukup puas dengan sayuran yang telah diperlakukan dengan teknologi plasma ozone. Disamping sayurnya tetap segar sampai seminggu lebih, bersih dan higienis.

POKTAN BAWANG PUTIH DI SEMBALUN, NTB MENGGUNAKAN ALAT D’OZONE

POKTAN BAWANG PUTIH DI SEMBALUN, NTB MENGGUNAKAN ALAT D’OZONE

Sembalun, Persoalan penakaran atau pembibitan bawang putih selalu mengalami masalah, disebabkan oleh jamur yang berkembang pada saat masa dormansi bawang putih tersebut.

Hal ini juga dialami oleh para petani yang berada di Sembalun, Nusa Tenggara Barat. Daerah yang terletak di bawah kaki gunung Rinjani tersebut sebagai salah satu penghasil bawang putih selalu mengalami serangan hama berupa jamur pusarium.

Serangan pusarium ini terjadi pada saat petani menyimpan bibit bawang putihnya di gudang bibit, menunggu tunas bawang tumbuh. Masa dormansi ini adalah masa sangat kritis bagi para petani. Dalam satu gudang petani bisa menyimpan bibit hingga sampai puluhan ton. Jika terjadi serangan jamur pusarium tersebut maka dapat dipastikan bibit akan mengalami kerusakan. Oleh karena itu petani biasa mengatasinya dengan menyemprotkan pestisida atau dengan cara pengasapan. Namun cara mengatasi pusarium dengan menggunakan pestisida dan pengasapan kurang efektif.

Melihat kondisi tersebut, Bank Indonesia NTB, berinisiatif mendatangkan mesin D’ozone untuk petani bawang putih di Sembalun. Alat tersebut memiliki fungsi untuk membunuh bakteri, virus dan jamur pada bawang putih.

Saat ini D’OZone tersebut telah digunakan oleh petani di gudang bawang putih dengan kapasitas 30 ton bibit bawang putih.

Awa, 23012021