Plasma Dingin Mengurangi Risiko Covid-19

Plasma Dingin Mengurangi Risiko Covid-19

Virus korona baru atau SARS-CoV-2 yang dipercaya bisa menular melalui udara memicu kekhawatiran meningkatnya risiko di ruangan tertutup seperti perkantoran, sekolah, hingga fasilitas kesehatan. Teknologi plasma dingin menjadi harapan baru membersihkan udara dari berbagai organisme, termasuk virus pemicu Covid-19.

Plasma kerap disebut sebagai materi keempat setelah bentuk padat, cair, dan gas yang pertama kali dideskripsikan oleh peraih Nobel Kimia dari Amerika Serikat, Irving Langmuir, pada tahun 1928. Untuk memahami materi ini, secara sederhana kita bisa memanaskan balok es yang dari padat kemudian berubah menjadi cairan. Pada pemanasan lebih lanjut, cairan ini akan berubah menjadi uap air atau keadaan gas.

Apa yang terjadi ketika kita memberikan lebih banyak panas? Jika semakin panas, nukleus atom atau ion dan elektron dari gas akan terpisah sehingga menjadi materi yang disebut plasma. Sekalipun mirip gas yang tidak memiliki bentuk tetap, plasma bersifat amat reaktif dan akan membentuk struktur filamen atau pancaran cahaya jika dipengaruhi medan elektromagnet.

Pendaran neon merupakan contoh plasma, demikian juga kilat. Bahkan, hampir semua materi yang bisa terlihat di alam semesta sebenarnya dalam kondisi plasma, termasuk energi yang jadi inti matahari dan bintang-bintang. Bumi terbenam dalam plasma tipis yang disebut angin matahari dan dikelilingi oleh plasma padat yang disebut ionosfer.

Muhammad Nur, Guru Besar Fisika Universitass Diponegoro, dalam bukunya, Fisika Plasma dan Aplikasinya (2011), menyebutkan, plasma bisa dibedakan menjadi tiga berdasarkan suhunya, yaitu plasma dingin, plasma termik, dan plasma panas.

Hingga kini, teknologi yang dipakai dalam dunia industri yakni plasma termik dan plasma dingin. Plasma termik kerap digunakan untuk pengelasan, pemotongan logam, dan pembersihan polutan. Sementara plasma dingin sering digunakan dalam bidang mikro-elektronik, pembentukan materi baru, dan pembersihan polutan.

Inovasi Indonesia

Meski di luar negeri telah berkembang pesat, penggunaan teknologi plasma di Indonesia masih terbatas. Salah satu perintisnya adalah Center for Plasma Research (CPR) Undip, yang digagas Muhammad Nur sejak tahun 1998 sekembalinya sekolah master dan doktoral dari Joseph Fourier University, Grenoble, Perancis, dengan fokus studi pada teknologi plasma.

”Di Undip, yang kami kembangkan adalah plasma dingin,” kata Nur. Sejak tahun 2008, CPR Undip bekerja sama dengan PT Dipo Technology untuk hilirisasi hasil riset mereka. Sejauh ini mereka telah memproduksi dua jenis produk, yaitu D’Ozone yang digunakan untuk pengawetan produk pertanian dan Zeta Green untukmembersihkan udara dalam ruangan.

Dengan teknologi plasma itu, CPR Undip bisa mengembangkan peralatan yang mampu menghasilkan ozon hingga 150 gram per jam dan membuat produk sayur atau buah-buahan dapat disimpan lebih lama secara alami.

”Produk ini banyak dipakai petani. Cabai, misalnya, bisa disimpan dua bulan lebih masih segar. Baru-baru ini produk kami juga dipakai petani penangkar bawang di Mamuju untuk menyimpan bibit bawang sehingga aman dari fusarium,” kata Azwar, Direktur PT Dipo Technology.

Adapun untuk membersihkan udara ruangan, mereka mengembangkan peralatan portabel yang mampu menyedot udara dan mengalirkannya ke dalam reaktor plasma dingin. ”Seluruh partikel pencemar yang melalui reaktor plasma ini akan dicabik atau dihancurkan, kotorannya luruh dan mengendap di dasar alat dan yang keluar berupa udara bersih,” tuturnya.

Menurut Nur, di Indonesia saat ini banyak beredar produk pabrikan yang mengklaim membersihkan ruangan dengan teknologi plasma, tetapi kebanyakan menggunakan teknologi ultraviolet. ”Setahu kami belum ada yang menyedot udara dan mengalirkannya ke reaktor plasma dingin seperti yang kami lakukan,” ujarnya.

Seluruh partikel pencemar yang melalui reaktor plasma ini akan dicabik atau dihancurkan, kotorannya luruh dan mengendap di dasar alat dan yang keluar berupa udara bersih.

Produk pembersih udara ruangannya sudah banyak dipakai di rumah sakit, selain juga ruang merokok di perkantoran dan penggunaan pribadi. ”Asap rokok dan bau tidak sedap lain di ruangan yang diisap ke dalam reaktor lalu dipecah menjadi karbon yang luruh jadi debu sehingga yang keluar oksigen. Semakin lama alat kami beroperasi, udara dalam ruangan akan semakin segar,” katanya.

Menurut hasil uji di Unit Pelaksana Teknis (UPT) Laboratorium Terpadu Undip, peralatan plasma dingin ini bisa mereduksi bakteri sebesar 53 persen dan jamur 61 persen dari ruangan dengan volume 96 meter kubik setelah dinyalakan selama sejam. Dalam tiga jam, peralaan ini bisa mereduksi bakteri hingga 83 persen dan jamur 80 persen.

Kajian dari NN Misra dan Cheorun Jo di jurnal Trends in Food Science and Technology volume 64 tahun 2017 menyebut, teknologi plasma dingin bisa mencabik mikroorganisme seperti bakteri dan jamur hingga rusak RNA-nya. Dengan demikian, teknologi ini bisa dianggap bisa menggantikan metode pengawetan makanan.

Kajian Danil Dobrynin dari Institut Plasma C & J Nyheim Universitas Drexel dan tim yang dipublikasikan di jurnal IEEE Transactions on Plasma Sciences tahun 2010 membuktikan, teknologi tersebut bisa membersihkan spora bakteri Bacillus anthracis pemicu antraks dari ruangan hingga 99 persen. Kini para peneliti di tempat sama memodifikasi sistem sterilisasi udara buatan mereka untuk memerangi Covid-19.

”Prinsip yang sama seharusnya terjadi jika virus melalui reaktor kami. Namun, di Indonesia belum ada laboratorium yang bisa mengujinya. Terlalu berbahaya,” kata Nur.

Sekalipun belum teruji untuk virus, secara teoretis Nur meyakini, peralatan yang diciptakannya ini bisa mengurangi risiko penularan SARS-CoV-2, virus korona baru pemicu Covid-19 di dalam ruangan, yang kini marak terjadi di perkantoran.

”Perkantoran banyak menggunakan AC (pendingin udara) terpusat. Jika teknologi pembersih udara plasma kami dipasang di sana, akan membantu membersihkan udara dalam ruangan tersebut. Kami masih terus mengembangkannya,” ujarnya.

Saat ini para ilmuwan plasma di dunia berlomba memerangi Covid-19 dan teknologi plasma dingin dianggap sebagai salah satu strategi menangkal penyebarannya di dalam ruang tertutup ataupun dekontamisasi berbagai bahan makanan. Ini dikemukakan Arijana Filipić dari Department of Biotechnology and Systems Biology, National Institute of Biology, Slovenia, dan tim dalam artikelnya di jurnal CellPress Review edisi April 2020.

Kajian Zhitong Chen dan Richard E Wirz dari Department of Mechanical and Aerospace Engineering University of California yang dibagi di preprints.org juga menunjukkan potensi teknologi plasma dingin ini untuk membersihkan SARS-CoV-2. Meski kajian ini belum mendapat tela’ah sejawat, itu memberikan harapan untuk mengeliminasi virus mematikan ini dari dalam ruangan.

KOMPAS/RIZA FATHONI

Sumber :

https://bebas.kompas.id/baca/bebas-akses/2020/08/10/plasma-dingin-mengurangi-risiko-covid-19/
ZETA GREEN TEKNOLOGI PLASMA DINGIN

ZETA GREEN TEKNOLOGI PLASMA DINGIN

Zeta Green adalah alat penjernih udara yang berfungsi  untuk membersihkan udara kotor, asap rokok, asap kendaraan, CO2, yang berada dalam ruangan membunuh virus, bakteri, jamur, menghambat penyebaran  penyakit, yang disebabkan oleh virus,  bakteri maupun jamur, menghilangkan bau ruangan  yang tidak sedap. Menghasilkan udara bersih (oksigen), segar  dan sehat, bebas virus, bakteri dan jamur yang  berbahaya.

Menurut Chen (2002), plasma merupakan daerah reaksi tumbukan elektron yang sangat signifikan untuk terjadi. Plasma dapat terjadi ketika temperatur atau energi suatu gas dinaikkan sehingga memungkinkan atom-atomgas terionisasi akan membuat gas tersebut melepaskan elektron-elektronnya yang pada keadaan normal mengelilingi inti.

Maka secara sederhana plasma didefinisikan sebagai gas terionisasi dan dikenal sebagai fase materi ke empat setelah fase padat, cair, dan fase gas.

3 JENIS PLASMA

1. Plasma Panas

Plasma panas terjadi dalam keadaan kesetimbangan termal (thermal equilibrium). Pada pembangkitan plasma panas distribusi energi elektron dan molekul gas mendekati sama, karena frekuensi tumbukan antara elektron dan molekul gas lebih besar. Plasma panas adalah plasma yang tersusun dari molekul 6 gas yang bertemperatur tinggi. Plasma jenis ini memiliki temperatur di atas 10 K. Plasma panas digunakan untuk memproduksi energi listrik.

2. Plasma Termik

Plasma jenis ini tergolong plasma dalam keadaan ketidaksetimbangan termal (non – thermal equilibrium). Partikel–partikel berat di dalam plasma bersuhu lebih tinggi dari 3000 K. Elektron dalam plasma termik ini mempunyai 5 temperatur cukup tinggi lebih besar dari 10 K. Plasma jenis ini sering digunakan untuk pengelasan, pemotongan logam, pembersihan polutan dan lain–lain.

3. Plasma Dingin

Plasma yang terjadi dalam keadaan ketidaksetimbangan termal (non–thermal equilibrium) antara temperatur elektron dan gas. Temperatur elektron tinggi tetapi temperatur partikel gas relatif rendah karena tumbukan elektron dan partikel gas sangat kecil. Pada plasma dingin ion dan atom–atom atau molekul–molekul netral tetap dalam suhu sekitar 1000 K. elektron–elektron dalam plasma jenis ini mempunyai temperatur cukup tinggi sekitar 50000 K. Plasma dingin sering digunakan dalam bidang mikroelektronik, pembentukan materi baru dan pembersihan polutan.

BISAKAH PLASMA MEMBUNUH VIRUS, JAMUR DAN BAKTERI

https://nationalgeographic.grid.id/read/131741924/mengenal-teknologi-terbaru-
yang-mampu-membunuh-99-kuman-di-udara-seperti-apa?page=all

BISAKAH ZETA GREEN MEMBUNUH VIRUS, BAKTERI DAN JAMUR?

Reaktot plasma dingin yang di produksi oleh PT. DIPO TECHNOLOGY
sumber : https://kompas.id/baca/humaniora/ilmu-pengetahuan-teknologi/2020/08/10/plasma-dingin-mengurangi-risiko-covid-19/

BISAKAH TEKNOLOGI LAIN MEMBUNUH BAKTERI, JAMUR DAN VIRUS? AMANKAH?

SINAR ULTRA VIOLET (UVC)

PLASMACLUSTER MENGGUNAKAN FIILTER

https://www.liputan6.com/lifestyle/read/4217356/air-purifier-sanggup-cegah-infeksi-corona-covid-19-fakta-atau-hoaks

CARA KERJA ZETA GREEN

HASIL UJI ZETA GREEN

KELEBIHAN ZETA GREEN

  1. RAMAH LINGKUNGAN

Teknologi plasma yang   digunakan pada Zeta Green  tidak meninggalkan residu apapun. Malah udara dalam ruangan menjadi segar

2. TIDAK MENGGUNAKAN FILTER

Teknologi plasma yang digunakan pada Zeta Green tidak membutuhkan filter, karena jika menggunakan filter maka pada suatu saat filter tersebut akan mengalami kejenuhan dan berakibat berkembangnya mikroorganisme pada filter tersebut.

3. MENGUBAH ASAP ROKOK (CO) DAN MENGHASILKAN OKSIGEN

Teknologi plasma pada Zeta Green dapat mengubah asap rokok (CO), memisahkan Carbon dan Oksigen. Carbon berubah menjadi debu yang kemudian jatuh pada dasar Zeta Green, dan Oksigen keluar melalui lubang di bawah Zeta Green udara di dalam ruangan yang terpasang zeta Green menjadi segar

4. PLASMA DINGIN YANG BEKERJA

Teknologi plasma pada Zeta Green menghasilkan O3 (ozon) tetapi sangat rendah yaitu 0,05 ppm. Dibawah standar yang ditetapkan Internasional US EPA 2012 (Health Effects of Ozone in The General Population) yaitu sebesar 0,08 ppm ambang batas ozon yang bisa dihirup manusia.

Plasma Dingin Mengurangi Risiko Covid-19

Plasma Dingin Mengurangi Risiko Covid-19



Petugas penanggulangan kebakaran dan penelamatan menyemprotkan cairan disinfektan di balkon ruang Sidang Paripurna Gedung DPRD DKI Jakarta, Rabu (29/7/2020). Penyemprotan itu bertujuan menekan penularan Covid-19 di lingkungan perkantoran dan pemerintahan.

 

Virus korona baru atau SARS-CoV-2 yang dipercaya bisa menular melalui udara memicu kekhawatiran meningkatnya risiko di ruangan tertutup seperti perkantoran, sekolah, hingga fasilitas kesehatan. Teknologi plasma dingin menjadi harapan baru membersihkan udara dari berbagai organisme, termasuk virus pemicu Covid-19.

Plasma kerap disebut sebagai materi keempat setelah bentuk padat, cair, dan gas yang pertama kali dideskripsikan oleh peraih Nobel Kimia dari Amerika Serikat, Irving Langmuir, pada tahun 1928. Untuk memahami materi ini, secara sederhana kita bisa memanaskan balok es yang dari padat kemudian berubah menjadi cairan. Pada pemanasan lebih lanjut, cairan ini akan berubah menjadi uap air atau keadaan gas.

Apa yang terjadi ketika kita memberikan lebih banyak panas? Jika semakin panas, nukleus atom atau ion dan elektron dari gas akan terpisah sehingga menjadi materi yang disebut plasma. Sekalipun mirip gas yang tidak memiliki bentuk tetap, plasma bersifat amat reaktif dan akan membentuk struktur filamen atau pancaran cahaya jika dipengaruhi medan elektromagnet.

Pendaran neon merupakan contoh plasma, demikian juga kilat. Bahkan, hampir semua materi yang bisa terlihat di alam semesta sebenarnya dalam kondisi plasma, termasuk energi yang jadi inti matahari dan bintang-bintang. Bumi terbenam dalam plasma tipis yang disebut angin matahari dan dikelilingi oleh plasma padat yang disebut ionosfer.

Muhammad Nur, Guru Besar Fisika Universitass Diponegoro, dalam bukunya, Fisika Plasma dan Aplikasinya (2011), menyebutkan, plasma bisa dibedakan menjadi tiga berdasarkan suhunya, yaitu plasma dingin, plasma termik, dan plasma panas.

Hingga kini, teknologi yang dipakai dalam dunia industri yakni plasma termik dan plasma dingin. Plasma termik kerap digunakan untuk pengelasan, pemotongan logam, dan pembersihan polutan. Sementara plasma dingin sering digunakan dalam bidang mikro-elektronik, pembentukan materi baru, dan pembersihan polutan.

Inovasi Indonesia

Meski di luar negeri telah berkembang pesat, penggunaan teknologi plasma di Indonesia masih terbatas. Salah satu perintisnya adalah Center for Plasma Research (CPR) Undip, yang digagas Muhammad Nur sejak tahun 1998 sekembalinya sekolah master dan doktoral dari Joseph Fourier University, Grenoble, Perancis, dengan fokus studi pada teknologi plasma.

”Di Undip, yang kami kembangkan adalah plasma dingin,” kata Nur. Sejak tahun 2008, CPR Undip bekerja sama dengan PT Dipo Technology untuk hilirisasi hasil riset mereka. Sejauh ini mereka telah memproduksi dua jenis produk, yaitu D’Ozone yang digunakan untuk pengawetan produk pertanian dan Zeta Green untukmembersihkan udara dalam ruangan.

Dengan teknologi plasma itu, CPR Undip bisa mengembangkan peralatan yang mampu menghasilkan ozon hingga 150 gram per jam dan membuat produk sayur atau buah-buahan dapat disimpan lebih lama secara alami.

”Produk ini banyak dipakai petani. Cabai, misalnya, bisa disimpan dua bulan lebih masih segar. Baru-baru ini produk kami juga dipakai petani penangkar bawang di Mamuju untuk menyimpan bibit bawang sehingga aman dari fusarium,” kata Azwar, Direktur PT Dipo Technology.

Adapun untuk membersihkan udara ruangan, mereka mengembangkan peralatan portabel yang mampu menyedot udara dan mengalirkannya ke dalam reaktor plasma dingin. ”Seluruh partikel pencemar yang melalui reaktor plasma ini akan dicabik atau dihancurkan, kotorannya luruh dan mengendap di dasar alat dan yang keluar berupa udara bersih,” tuturnya.

Menurut Nur, di Indonesia saat ini banyak beredar produk pabrikan yang mengklaim membersihkan ruangan dengan teknologi plasma, tetapi kebanyakan menggunakan teknologi ultraviolet. ”Setahu kami belum ada yang menyedot udara dan mengalirkannya ke reaktor plasma dingin seperti yang kami lakukan,” ujarnya.

Seluruh partikel pencemar yang melalui reaktor plasma ini akan dicabik atau dihancurkan, kotorannya luruh dan mengendap di dasar alat dan yang keluar berupa udara bersih.

Produk pembersih udara ruangannya sudah banyak dipakai di rumah sakit, selain juga ruang merokok di perkantoran dan penggunaan pribadi. ”Asap rokok dan bau tidak sedap lain di ruangan yang diisap ke dalam reaktor lalu dipecah menjadi karbon yang luruh jadi debu sehingga yang keluar oksigen. Semakin lama alat kami beroperasi, udara dalam ruangan akan semakin segar,” katanya.

Menurut hasil uji di Unit Pelaksana Teknis (UPT) Laboratorium Terpadu Undip, peralatan plasma dingin ini bisa mereduksi bakteri sebesar 53 persen dan jamur 61 persen dari ruangan dengan volume 96 meter kubik setelah dinyalakan selama sejam. Dalam tiga jam, peralaan ini bisa mereduksi bakteri hingga 83 persen dan jamur 80 persen.

Kajian dari NN Misra dan Cheorun Jo di jurnal Trends in Food Science and Technology volume 64 tahun 2017 menyebut, teknologi plasma dingin bisa mencabik mikroorganisme seperti bakteri dan jamur hingga rusak RNA-nya. Dengan demikian, teknologi ini bisa dianggap bisa menggantikan metode pengawetan makanan.

Kajian Danil Dobrynin dari Institut Plasma C & J Nyheim Universitas Drexel dan tim yang dipublikasikan di jurnal IEEE Transactions on Plasma Sciences tahun 2010 membuktikan, teknologi tersebut bisa membersihkan spora bakteri Bacillus anthracis pemicu antraks dari ruangan hingga 99 persen. Kini para peneliti di tempat sama memodifikasi sistem sterilisasi udara buatan mereka untuk memerangi Covid-19.

”Prinsip yang sama seharusnya terjadi jika virus melalui reaktor kami. Namun, di Indonesia belum ada laboratorium yang bisa mengujinya. Terlalu berbahaya,” kata Nur.

Sekalipun belum teruji untuk virus, secara teoretis Nur meyakini, peralatan yang diciptakannya ini bisa mengurangi risiko penularan SARS-CoV-2, virus korona baru pemicu Covid-19 di dalam ruangan, yang kini marak terjadi di perkantoran.

”Perkantoran banyak menggunakan AC (pendingin udara) terpusat. Jika teknologi pembersih udara plasma kami dipasang di sana, akan membantu membersihkan udara dalam ruangan tersebut. Kami masih terus mengembangkannya,” ujarnya.

Saat ini para ilmuwan plasma di dunia berlomba memerangi Covid-19 dan teknologi plasma dingin dianggap sebagai salah satu strategi menangkal penyebarannya di dalam ruang tertutup ataupun dekontamisasi berbagai bahan makanan. Ini dikemukakan Arijana Filipić dari Department of Biotechnology and Systems Biology, National Institute of Biology, Slovenia, dan tim dalam artikelnya di jurnal CellPress Review edisi April 2020.

Kajian Zhitong Chen dan Richard E Wirz dari Department of Mechanical and Aerospace Engineering University of California yang dibagi di preprints.org juga menunjukkan potensi teknologi plasma dingin ini untuk membersihkan SARS-CoV-2. Meski kajian ini belum mendapat tela’ah sejawat, itu memberikan harapan untuk mengeliminasi virus mematikan ini dari dalam ruangan.

KOMPAS/RIZA FATHONI

Sumber :

https://bebas.kompas.id/baca/bebas-akses/2020/08/10/plasma-dingin-mengurangi-risiko-covid-19/

Zeta Green ZG-KT

Zeta Green ZG-KT

 

ZETA GREEN ZG -KT 

PT. Dipo Technology meluncurkan produk Zeta Green ZG-KT bentuk kotak. Fungsi dan manfaat sama dengan Zeta Green bentuk bulat yang saat ini produk Zeta Green yang bulat tersebut sudah tidak diproduksi lagi (dis continue). 

Zeta Green adalah produk  penjernih udara yang berfungsi untuk menyaring udara kotor, asap,  membunuh virus, bakteri, jamur, menghambat penyebaran penyakit, membantu kesembuhan penyakit akibat virus, bakteri maupun jamur, menghilangkan bau ruangan yang tidak sedap dirubah menjadi udara bersih, segar dan sehat, bebas virus, bakteri dan jamur yang berbahaya.

 

CARA KERJA

  • Udara kotor di dalam ruangan yang mengandung partikel debu, bakteri, virus dan jamur akan dihisap, oleh Zeta Green. Pada bagian tengah terdapat reaktor plasma corona yang mencacah bakteri, virus, jamur yang tersedot oleh kipas pada bagian atas Zeta Green. Lisis mikroorganisme rusak dan mikroorganisme berupa jamur, virus dan bakteri mati. Selanjutnya akan keluar udara bersih,  segar seperti udara pegunungan.
  • Zeta Green tidak menggunakan filter, karena filter udara akan mengalami kejenuhan. Jika tidak dibersihkan maka akan berakibat kotor dan menjadi tempat berkembang biaknya mikroorganisme.
  • Memecah CO (carbon monoksida) yang dihasilkan dari asap rokok menjadi udara bersih (O2). Sehingga udara didalam ruang merokok (smoking area) tetap segar.
  • Zeta Green menghasilkan ozon (O3) sangat rendah sekali dibawah 0,050 ppm. Hal ini telah sesuai dengan standar internasional ozon yang diperbolehkan. Ozon  0,050 ppm adalah konsentrasi ozon maksimum yang dihasilkan oleh pembersih udara elektronika dan perangkat perumahan yang sesuai dengan usulan amandemen UU makanan, obat dan kosmetik (sumber : US EPA 2012, Health Effects of Ozone in The General Population).
  • Ion Cluster dan oksigen aktif yang keluar dari alat ini akan membunuh virus, bakteri, jamur yang masih tersisa disela-sela ruangan.
  • Udara bersih dan segar tetap akan terjaga sekalipun ruangan tersebut tertutup tanpa ventilasi dan ber-AC.

PENGUJIAN

  1. Teknologi yang digunakan adalah teknologi Plasma. Plasma adalah bentuk keempat setelah padat, cair, gas. Beberapa tahun belakangan banyak ilmuwan berkecimpung memanfaatkan energi plasma ini.
  2. Teknologi Zeta Green bukan sekedar mengikat jamur, virus maupun bakteri, tetapi dapat membunuh mikroorganisme tersebut setelah melewati reaktor plasma yang terpasang di Zeta Green.
  3. Telah melalui proses pengujian di Center For Plasma Research (CPR) Fakultas Sains dan Matematika Universitas Diponegoro Semarang menyatakan bahwa Teknologi Plasma yang terpasang di Zeta Green AMAN digunakan dan MENYEHATKAN.

 

 

Cara Kerja Zeta Green

Cara Kerja Zeta Green

Zeta Green adalah alat penjernih udara yang berfungsi untuk menyaring udara kotor, asap (CO2), membunuh virus, bakteri, jamur, menghambat penyebaran penyakit, membantu kesembuhan penyakit akibat virus, bakteri maupun jamur, menghilangkan bau ruangan yang tidak sedap dirubah menjadi udara bersih, segar dan sehat, bebas virus, bakteri dan jamur yang berbahaya.

CARA KERJA

Udara kotor di dalam ruangan yang mengandung partikel debu, bakteri, virus dan jamur akan dihisap, bakteri, virus, jamur akan mati. Selanjutnya akan keluar udara bersih,  segar seperti udara pegunungan.

Ion Cluster dan oksigen aktif yang keluar dari alat ini akan membunuh virus, bakeri,  jamur yang masih tersisa disela-sela ruangan.

Teknologi yang digunakan adalah teknologi Plasma. Plasma adalah bentuk keempat setelah padat, cair, gas, plasma. beberapa tahun belakangan banyak ilmuwan berkecimpung memanfaatkan energi plasma ini.

Center For Plasma Research (CPR) Fakultas Sains dan Matematika Universitas Diponegoro Semarang menyatakan bahwa Teknologi Plasma yang terpasang di Zeta Green AMAN digunakan dan MENYEHATKAN.

LOWONGAN MARKETING

LOWONGAN MARKETING

pria, umur maksimal 30 tahun. berpengalaman dibidang marketing, memiliki SIM A&C

LAMARAN PALING LAMBAT 21 Mei 2018

Tes Wawancara : 23 Mei 2018

Klaster Sapi Perah Dan Teknologi Penyimpanan Holtikultura Ngablak Dikunjungi 120 Akademisi

Klaster Sapi Perah Dan Teknologi Penyimpanan Holtikultura Ngablak Dikunjungi 120 Akademisi


Kunjungan dari Akademisi Perguruan Tinggi se-Indonesia khususnya bidang Ekonomika dan Bisnis yang diadakan oleh Bank Indonesia Jawa Tengah meninjau beberapa bantuan Program Sosial Bank Indonesia (PBSI) dalam mendukung ketahanan pangan di daerah khususnya kepada Gapoktan di Klaster Sapi Perah Terintegrasi Hortikultura. Hadir pada kunjungan tersebut Dinas Pertanian Magelang, Badan Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Tengah, Camat dan petani. Para akademisi mengapresiasi masyarakat petani khususnya Gapoktan yang ada di Ngablak karena mampu menghasilkan produk pertanian dan peternakan yang unggul dan terintegrasi dengan baik.

Teknologi Plasma Ozon untuk memperpanjang masa simpan produk holtikultura  menjadi salah satu obyek kunjungan tersebut. Teknologi ini sudah diterapkan di Desa Sumberejo, Kecamatan Ngablak, Kabupaten Magelang berkat dedikasi Bank Indonesia Jawa tengah ini mampu menyimpan produk sayur-sayuran hingga 10-15 hari, sementara untuk cabai bisa bertahan 60 hari. Alat yang terdiri dari generator plasma ozone (D’OZONE), bak pencucian, meja penirisan, dan cold storage dedicated plasma ozon ukuran 1 ton ini mampu menyedot perhatian pengnjung, karena alat ini sangat ampuh membunuh mikroorganisme penyebab pembusukan pada produk holtikultura, hal ini dijelaskan oleh Dr. Muhammad Nur, DEA. sebagai inventor dan inovator produk D’OZONE ini. Ketika ditanya prihal harga, Muhammad Nur menyerahkan sepenuhnya kepada PT. DIPO TECHNOLOGY yang memproduksi dan memasarkan produk ini. Mengenai spesifikasi produk, harga,  bisa langsung  akses  website www.dipotechnology.com dan www.d-ozone.com pungkasnya.

Pada sambutannya Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Jawa Tengah Rahmat Dwisaputra,  menjelaskan bagaimana peranan Bank Indonesia dalam mendukung ketahanan pangan di daerah khususnya kepada Gapoktan di Klaster Sapi Perah Terintegrasi Hortikultura, pada kesempatan itu hadir juga Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Jawa Tengah (BPTP Jateng). Dr. Ir. Harwanto, M.Si., Camat Ngablak Budi Daryanto, dan Dinas Dinas Pertanian Tanaman Pangan Perkebunan dan Kehutanan Kabupaten Magelang lebih dari 120 akademisi, dari berbagai perguruan tinggi diseluruh Indonesia. (ev)

 

Gapoktan Maju Mandiri, Sugihmas Terapkan Teknologi Ozon Untuk Penyimpanan Cabai

Gapoktan Maju Mandiri, Sugihmas Terapkan Teknologi Ozon Untuk Penyimpanan Cabai

Magelang, Gapoktan Maju Mandiri desa Sugihmas, kec. Grabag, Kab, Megelang terapkan teknologi

Plasma Ozon untuk menyimpan cabai. Teknologi ini berkat dedikasi PT. AIM (Agro Indo Mandiri) yang berdomisili di Bogor untuk petani cabai khususnya di desa Sugihmas. Dalam acara serah terima tersebut PT. AIM diwakili oleh Prof. Ir. Bambang Sudaryato, MS sebagai ketua Gapoktan Maju Mandiri.

Hadir pada kesempatan itu Direktur PT. DIPO TECHNOLOGY, Azwar, SE menyerahkan mesin produk D’OZONE keluaran 150 gram/jam, bak pencucian dan meja penirisan yang terbuat dari stainlees (foodgrade). Acara serah terima tersebut dilanjutkan sosialisasi penggunaan mesin D’OZONE. Hadir juga pada acara tersebut PPL Sugihmas Bapak Eko dari  Dinas PertanianTanaman Pangan, Perkebunan & Kehutanan Kab. Magelang. dan Bapak Agus Budiyanto dari Badan Litbang Pertanian Kementerian Pertanian , Cimanggu, Bogor. (ag)